“Dulu, waktu aku masih sangat kecil, aku memanjat pohon dan memakan apel-apel hijau yang masam. Perutku kembung dan jadi keras seperti genderang, rasanya sakit sekali. Kata ibu, kalau aku menunggu apel itu masak, aku tidak akan sakit. Jadi, sekarang setiap aku sangat menginginkan sesuatu, aku mencoba mengingat yang dikatakan ibuku tentang apel itu.” (The Kite Runner - 2003)Filosofi ‘apel masam’ ini telah terpatri dalam diri saya. Sama seperti Sohrab – bocah dalam kisah itu – yang mengatakan kalimat di atas, ketika saya sedang berambisi mengejar sesuatu, saya akan mengingat ‘apel masam’.
“Gue banget!”, komentar yang pertama kali meluncur dari bibir saya ketika membaca perkataan Sohrab tadi. Apalagi bila dicocokkan dengan kondisi diri saya saat ini, ‘apel masam’ menjadi pelajaran berarti untuk saya. Dilatarbelakangi oleh beberapa keputusan yang saya ambil secara terburu-buru, sehingga membuat saya tersakit-sakit pada akhirnya, maka saya tidak ingin terperosok ke dalam jurang yang sama untuk yang kedua kalinya.
Agak rumit memang, ketika saya harus bersabar menunggu hingga apel itu matang dan berasa manis. Apel yang ada di depan saya – apa pun warnanya, bagaimana pun rasanya – ingin cepat-cepat saya makan. Tanpa memikirkan konsekuensi yang harus saya terima setelah memakannya dan tanpa mengantisipasi langkah apa yang harus saya ambil ketika rasa sakit itu datang.
Padahal, kalau mau bersabar sedikit, saya bisa menunggu hingga apel itu matang, sehingga ketika memakannya pun saya merasakan kesenangan karena manisnya apel itu, dan tidak ada rasa sakit yang menyerang perut saya.
Kalau saja mau bersabar...
- t y -
Yk, 29 Oktober 2008
23.15 p.m.
Picture taken from: http://anakjenius.files.wordpress.com/2009/06/herba-prana-buah-apel-297x300.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar