
Penelitian ilmiah tentang perilaku memaafkan merupakan sebuah terobosan baru dalam pendekatan konflik selama ini. Selama ribuan tahun, orang-orang telah mempraktekkan perilaku memaafkan dalam sistem agama. Baru-baru ini, bidang penelitian ilmiah tentang memaafkan menunjukkan berbagai manfaat.
Adalah Everett L. Worthington, Jr., Ph.D - seorang profesor psikologi di Virginia Commonwealth University – yang telah meneliti tentang memaafkan secara langsung diturunkan dari bidang ilmu yang ditekuninya yaitu problem klinis pada pasangan dan keluarga. Bersama dengan Michael McCullough and Steven Sandage (setelah meraih gelar sarjana), Worthington mengembangkan model untuk mempromosikan perilaku memaafkan yang dapat diaplikasikan dalam setting kelompok psikoedukasional. Model yang dihasilkannya telah diuji beberapa kali dan ditemukan efektifitasnya pada setting kelompok psikoedukasional, dan sebuah meta-analisis mendukung efektivitasnya.
“Kerendahan hati (humility) tidak meneriakkan karakternya. Ia merupakan kebajikan yang tak terdengar. Kita harus melakukan pendekatan secara halus padanya. Karena kesunyiannya, kita harus mendengar, melihat, dan merasakan perbedaan karakternya,” tulis Dr. Everett L. Worthington Jr. dalam bukunya Humility: The Quiet Virtue. Ia mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari dan mengajar bagaimana memaafkan dan keadilan bisa berjalan beriringan. Dalam buku bersampul tipis yang inspiratif ini, ia banyak menghadirkan asesmen pemikiran yang memprovokasi (thought-provoking) and penggerak jiwa (soul-stirring) dari kerendahan hati. Ia membubuhi tulisannya dengan kutipan kata-kata dari beberapa tokoh terkenal, di antaranya Helen Keller, T.S. Eliot, John Ruskin, dan Fyodor Dostoevsky.
Worthington menulis: “Komponen kerendahan hati adalah melihat dan menghormati sesuatu lebih besar dari diri kita”. Berhubungan dengan perilaku memaafkan, kerendahan hati menjadi salah satu faktor penyebab seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain. Seseorang yang memiliki kerendahan hati akan merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Melebihi kemampuannya, melebihi kekuatannya, melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Selanjutnya, tidak lagi perasaan “rendah” ini ditujukan kepada sesama manusia, tetapi lebih daripada itu, kerendahan hati ditunjukkan oleh manusia di hadapan Tuhan Maha Segalanya. Karena perasaan sebagai makhluk yang “kecil” inilah seseorang tidak enggan meminta maaf dan memaafkan sesamanya.
Bersumber dari sebuah tulisan Cholis Akbar (020708) yang dimuat hidayatullah.com, “Forgiveness research” atau penelitian tentang perilaku memaafkan termasuk bidang yang kini banyak diteliti ilmuwan di sejumlah bidang keilmuan seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan. Hal ini karena sikap memaafkan ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan jiwa raga, maupun hubungan antar-manusia. Jurnal ilmiah EXPLORE (The Journal of Science and Healing), edisi Januari/Februari 2008, Vol. 4, No. 1 menurunkan rangkuman berjudul “New Forgiveness Research Looks at its Effect on Others” (Penelitian Baru tentang Memaafkan Mengkaji Dampaknya pada Orang Lain).
Dipaparkan pula bahwa berlimpah bukti telah menunjukkan perilaku memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan bagi orang yang memaafkan. Lebih jauh dari itu, penelitian terbaru mengisyaratkan pula bahwa pengaruh memaafkan ternyata juga berimbas baik pada kehidupan orang yang dimaafkan.
Worthington Jr, beserta partnernya merangkum kaitan antara memaafkan dan kesehatan. Dalam karya ilmiahnya, “Forgiveness in Health Research and Medical Practice” (Memaafkan dalam Penelitian Kesehatan dan Praktek Kedokteran), di jurnal Explore, Mei 2005, Vol.1, No. 3, Worthington dkk memaparkan dampak sikap memaafkan terhadap kesehatan jiwa raga, dan penggunaan “obat memaafkan” dalam penanganan pasien.
Memaafkan dan Kesehatan
Penelitian menggunakan teknologi canggih pencitraan otak seperti tomografi emisi positron dan pencitraan resonansi magnetik fungsional berhasil mengungkap perbedaan pola gambar otak orang yang memaafkan dan yang tidak memaafkan. Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktivitas otak yang sama dengan otak orang yang sedang stres, marah, dan melakukan penyerangan (agresif).
Demikian pula, ada ketidaksamaan aktivitas hormon dan keadaan darah si pemaaf dibandingkan dengan si pendendam atau si pemarah. Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormon emosi negatif yang terkait dengan keadaan stres. Sikap tidak memaafkan cenderung mengarah pada tingkat kekentalan darah yang lebih tinggi. Keadaan hormon dan darah sebagaimana dipicu sikap tidak memaafkan ini berdampak buruk pada kesehatan.
Raut wajah, daya hantar kulit, dan detak jantung termasuk yang juga diteliti ilmuwan dalam kaitannya dengan sikap memaafkan. Sikap tidak memaafkan memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi dan tekanan darah lebih tinggi. Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Kesimpulannya, sikap tidak mau memaafkan yang sangat parah dapat berdampak buruk pada kesehatan dengan membiarkan keberadaan stres dalam diri orang tersebut. Hal ini akan memperhebat reaksi jantung dan pembuluh darah di saat sang penderita mengingat peristiwa buruk yang dialaminya. Sebaliknya, sikap memaafkan berperan sebagai penyangga yang dapat menekan reaksi jantung dan pembuluh darah sekaligus memicu pemunculan tanggapan emosi positif yang menggantikan emosi negatif.
Kesehatan Jiwa
Selain kesehatan raga, orang yang memaafkan pihak yang mendzaliminya mengalami penurunan dalam hal mengingat-ingat peristiwa pahit tersebut. Dalam diri orang pemaaf, terjadi pula penurunan emosi kekesalan, rasa getir, benci, permusuhan, perasaan khawatir, marah dan depresi (murung).
Di samping itu, kajian ilmiah membuktikan bahwa memaafkan terkait erat dengan kemampuan orang dalam mengendalikan dirinya. Hilangnya pengendalian diri mengalami penurunan ketika orang memaafkan dan hal ini menghentikan dorongan untuk membalas dendam.
Kedzaliman
Harry M. Wallace dkk dari Department of Psychology, Trinity University, One Trinity place, San Antonio, AS menulis di Journal of Experimental Social Psychology, Vol 44, No. 2, March 2008, hal 453-460 dengan judul “Interpersonal consequences of forgiveness: Does forgiveness deter or encourage repeat offenses?” (Dampak Memaafkan terhadap Hubungan Antar-manusia: Apakah Memaafkan Mencegah atau Mendorong Kedzaliman yang Terulang?). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa menyatakan pemberian maaf biasanya menjadikan orang yang mendzalimi si pemaaf tersebut untuk tidak melakukan tindak kedzaliman serupa di masa mendatang.
Obat Memaafkan
Berdasarkan bukti berlimpah sikap memaafkan yang berdampak positif terhadap kesehatan jiwa raga, kini di sejumlah negara-negara maju telah dilakukan berbagai pelatihan menumbuhkan jiwa pemaaf dalam diri seseorang. Bahkan perilaku memaafkan ini mulai diujicobakan di dunia kesehatan dan kedokteran dalam penanganan pasien penderita sejumlah penyakit berbahaya.
Orang yang menderita resiko penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi berpeluang mendapatkan manfaat dari sikap memaafkan. Telah dibuktikan bahwa 10 minggu pengobatan dengan menggunakan “sikap memaafkan” mengurangi gangguan kerusakan aliran darah otot jantung yang dipicu oleh sikap marah.
Rasa sakit kronis dapat diperparah dengan sikap marah dan kesal (dendam). Penelitian terhadap orang yang menderita sakit kronis pada punggung bawah menunjukkan bahwa rasa marah, sakit hati dan sakit yang dapat dirasakan secara inderawi lebih berkurang pada mereka dengan sikap pemaaf yang lebih besar.
Kampanye Memaafkan
Gerakan memaafkan yang dipimpin oleh Everett L. Worthington Jr., yang merupakan seorang psikolog klinis yang juga menjabat Direktur Marital Assessment, Therapy and Enrichment Center (Pusat Penilaian, Pemulihan dan Pengokohan Perkawinan) di Universitas tersebut. Situs ini menyediakan informasi seputar hasil penelitian seputar memanfaatkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu. Selain itu abstrak makalah konferensi ilmiah tentang memaafkan, nama para ilmuwan dan pusat-pusat penelitian ilmiah tentang memaafkan ini juga dapat dijumpai di situs ini.
Selain dampak baiknya pada kesehatan jasmani dan rohani, kaitan antara erat sikap memaafkan dengan hubungan antar-manusia, seperti hubungan suami istri, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat juga telah banyak diteliti. Sikap memaafkan berpengaruh baik pada pemulihan hubungan antar-manusia tersebut.
“Memaafkan dapat mengobati seseorang, perkawinan, keluarga, masyarakat, dan bahkan segenap bangsa. Kami mengajak Anda bergabung dengan ”masyarakat-memaafkan kami” dan menjadi bagian dari usaha yang semakin berkembang dalam rangka menyebarluaskan anjuran memaafkan ke seluruh dunia. Kami menawarkan situs ini untuk mempelajari penelitian ilmiah tentang memaafkan, dan berbagi pengalaman Anda sendiri tentang memaafkan, atau terilhami oleh orang lain. Memaafkan adalah sebuah keputusan dan sekaligus sebuah perubahan nyata dalam pengalaman emosi. Perubahan dalam emosi itu terkait erat dengan kesehatan raga dan jiwa yang lebih baik.”
Hikmah Ilahiah
Nampaknya, ilmu pengetahuan modern semakin menegaskan pentingnya anjuran memaafkan sebagaimana diajarkan agama. Di dalam Al Qur’an, Hadits maupun teladan Nabi Muhammad SAW, memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang mendzalimi merupakan perintah yang sangat kuat dianjurkan. Salah satu ayat berkenaan dengan memaafkan berbunyi:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy Syuuraa, 42:40).
Catur Sari Widianingtyas
PS/05072
Isu-isu Kontemporer Psikologi Klinis
- 2008 -
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Cholis. Penelitian: Memaafkan Mendatangkan Kesehatan. http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7135&Itemid=1
Worthington, Jr., Everett. Dimensions of Forgiveness. http://ebooks.ebookmall.com/ebook/209743-ebook.htm
Worthington, Jr., Everett. Humility: The Quiet Virtue. Virginia: Templeton Foundation Press. http://www.spiritualityandpractice.com/books/books.php?id=17554
http://www.iamasite.com/images/doodles/forgiving.jpg

Welcome to ROYAL QQ.
BalasHapusSitus agen poker online yang terpercaya dan terbesar di INDONESIA.
ROYAL QQ menyediakan 7 permainan terpopuler dalam 1 ID.
Hanya dengan minimal deposit 15.000,- saja anda sudah bisa bermain di semua games.
Keuntungan bermain di Royal QQ :
- 200% Player Vs Player.
- Kartu yang dibagikan lebih bagus.
- Lebih banyak WD dari pada DEPO
- Lebih mudah memenangkan JACPOT!
Tunggu apa lagi, Daftarkan segera di https://goo.gl/WdAxAK
Contact Us :
Call : +855 8771 3624
BBM : 2B68D666