Minggu, 10 Januari 2010

The kiTe ruNNer


Buku ini saya temukan berbulan-bulan lalu di Social Agency Baru, Sagan – toko buku langganan saya. Namun, baru pada bulan September lalu mata saya tertuju padanya, tangan saya menggenggamnya, otak saya merekam tampilan covernya, hati saya tergerak untuk membacanya, dan kocek saya mampu membelinya (ujung-ujungnya duit, heheh...).
Adalah Amir, seorang anak berumur 12 tahun. Ia tinggal bersama ayahnya – yang disebutnya Baba jan. Baba merupakan seorang pengusaha sukses yang kaya raya dan terkenal dermawan dan memiliki banyak koneksi. Oleh karena sikap dermawannya, Baba disukai banyak orang karena dapat dengan mudah mendapat pinjaman uang darinya. Namun, tidak demikian dengan Amir.
Amir tidak suka dengan sikap Baba jan yang dingin. Amir menganggap bahwa kekakuan sikap Baba jan merupakan perwujudan sikap marahnya terhadap Amir karena telah menyebabkan istri tercintanya meninggal saat melahirkan Amir. Amir berpikiran bahwa sikap Baba jan tidak akan berubah terhadapnya. Selain itu, Amir juga tidak menyukai sikap Baba jan yang sering membandingkan dirinya dengan Hassan.
Di rumah megah itu, Baba jan dan Amir tinggal bersama seorang pelayan – Ali – dan anaknya – Hassan yang satu tahun lebih muda dari pada Amir. Ali adalah seorang Hazara – suku yang dianggap rendah di Afghanistan – jauh di bawah kaum Pashtun yang memiliki kehormatan tinggi dan dianggap paling pantas berpijak di bumi Afghanistan. Ayah Baba memungut Ali dan membiarkannya tumbuh bersama Baba selama 40 tahun hingga menjadi pelayan Baba. Tampaknya hal ini akan terulang pada kehidupan Amir dan Hassan. Meskipun Hassan hanyalah seorang anak pelayan hazara, sehari-harinya Amir menghabiskan waktu bersamanya – bermain, membacakan cerita, menonton film di Cinema Park, dan menjadi tandem dalam festival layang-layang di kota Kabul.
Persahabatan Amir dan Hassan begitu indah, sampai pada suatu hari hal yang amat buruk terjadi. Suatu peristiwa traumatis bagi Hassan yang menjadikan Amir menyesal seumur hidup. Menyesal karena tidak mampu berbuat apa pun untuk Hassan yang selama ini setia kepadanya. Peristiwa yang membuat Amir menjadi dirinya yang jauh dari harapan Baba jan.
Peristiwa demi peristiwa terjadi mewarnai kehidupan Amir. Perginya Ali dan Hassan dari rumah, pendudukan tentara Soviet yang mengancam hidup Baba jan, hijrahnya Amir dan Baba jan dari Kabul, sampai pada telepon Rahim Khan yang menjanjikan Amir untuk bisa membayar rasa sesalnya di masa lalu – bahwa ada jalan untuk kembali menuju kebaikan.
Buku ini bercerita tentang kehidupan Amir dan orang-orang di sekitarnya – Baba jan, Rahim Khan, Hassan, Soraya jan, dan yang lainnya. Bersetting di Afghanistan, cerita ini penuh dengan konflik fisik maupun batin, sarat akan nilai moral, dan bisa menjadi inspirasi dan refleksi bagi para pembaca yang menyukai kebudayaan Islam, konflik kemanusiaan yang terjadi di timur tengah – yang melibatkan Taliban, serta permainan kata yang bisa mengobrak-abrik emosi. Penulisnya, Khaled Hosseini – seorang dokter spesialis penyakit dalam ini – rupanya sangat berbakat dalam hal menulis fiksi. The Kite Runner merupakan novel karya pertamanya, novel Afghan pertama berbahasa Inggris, sekaligus menjadi buku terlaris sepanjang 2005.
Salah satu faktor yang membuat saya berhasrat untuk membaca buku ini adalah telah dibuatnya film The Kite Runner. Satu kebiasaan saya, apabila saya menemukan sebuah film yang diilhami dari buku – atau sebaliknya – apabila saya menemukan buku yang akan-sedang-sudah dibuat filmnya, maka sebisa mungkin saya membaca bukunya sampai habis, baru kemudian saya tonton filmnya. Simple saja, saya ingin memiliki gambaran mengenai tokoh, setting, dan alur cerita melalui buku sebelum menonton filmnya. Dengan demikian, walaupun visualisasi dari film telah saya dapatkan, namun saya tidak kehilangan imajinasi dan harapan akan tokoh, setting, maupun alur cerita yang saya ciptakan sendiri melalui buku. Idealisme itu tetap saya pegang, meskipun untuk beberapa film yang diilhami buku, saya tonton dengan tidak didahului membaca bukunya. Contohnya, Harry Potter, Timeline, A Beautifull Mind, The Lord of the Rings, Eragon, dan Narnia.
Sedikit mengkritisi film The Kite Runner. Seperti kebanyakan film yang berangkat dari buku, dalam film The Kite Runner ini terdapat pemotongan alur dan adegan yang tidak sesuai dengan bukunya. Sebuah permakluman yang lumrah apabila sutradara film melakukan hal semacam ini: menghilangkan secuil bagian peristiwa demi tersampaikannya sebagian besar isi cerita. Sama lumrahnya ketika Presiden AS Truman menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki dengan alasan (sok) bijak: menyingkirkan ratusan nyawa demi menyelamatkan jutaan nyawa lainnya. But after all, saya tidak terlalu kecewa saat menonton filmnya. Beberapa visualisasi yang ditampilkan dalam film cocok dengan imajinasi yang telah saya bangun ketika membaca bukunya. Good enough! Namun, tetap saja saya menyarankan untuk membaca bukunya terlebih dulu sebelum menonton filmnya. Saya khawatir imajinasi pembaca akan terdistorsi ketika membaca buku setelah menonotn filmnya. Lagipula, saya tidak yakin penonton akan membaca buku setelah menonton film, karena rasa penasaran tidak lagi muncul.
Bagi para pembaca yang menginginkan cerita yang tidak monoton dan menggugah rasa kemanusiaan, serta para penggemar film yang ingin mendapatkan visualisasi timur tengah yang kental, saya merekomendasikan The Kite Runner. Untukmu, keseribu kalinya...

- t y -
Yk, 29 Oktober 2008

Picture taken from: http://i.telegraph.co.uk/telegraph/multimedia/archive/01182/arts-graphics-2007_1182751a.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar